Bitches Broken Heart Completed
Multimedia: Stevie Leigh Boebi.
*Bitches Broken Heart, 1019 by Riska Pramita Tobing*
Stevie terduduk di ujung tempat tidur dimana biasanya Ally tidur. Gadis cantik itu kemudian menengok kecil pada nakas milik Ally yang dipenuhi dengan berbagai alat. Gadis tomboy itu bahkan meninggalkan vibrator disana dan Stevie tidak bisa tidak tertawa karenanya.Jesus Christ!Stevie harus benar-benar menemukan gadis tomboy itu atau dia akan jadi gila karenanya. Mengambil gadgetnya yang terletak di nakas samping kiri tempat dimana ia biasanya tertidur dan kemudian mendial nomor Ally dengnan cepat.Terdengar suara bising dari seberang sebelum akhirnya Stevie bisa mendengar suara debuman keras yang lalu diganti dengan suara Ally yang terdengar serak dan dalam "Ugh! Sup?? What's going on?" tidak menyangka bahwa Ally akan mengangkat telepon darinya, Stevie kemudian menarik napas panjang sebelum akhirnya bertanya khawatir "Dimana kau?""Beveridge Bar" jawab gadis tomboy itu terdengar malas.Stevie kemudian keluar dari rumahnya untuk menjemput gadis itu dari sana "Don't go anywhere. We need to talk"Mengemudi dengan cepat menuju Bar milik Shannon yang sudah tidak ditangani oleh gadis tomboy itu lagi karena kesibukan kuliah menimpa pemilik Bar itu, Stevie meruntuk kecil karena lampu lalu lintas justru menghentikannya dari acara ngebut tak terkira yang sempat ia lakukan barusan.Stevie cepat-cepat menginjak pedal gas saat gadis itu melihat lampu di atasnya berubah menjadi hijau meskipun sebenarnya gadis itu takut untuk menancap gas dalam-dalam, ia tetap saja melakukannya karena sudah tidak sabar untuk menemui mantan kekasihnya.Setelah beberapa menit bergelut dengan keramaian jalanan Los Angeles yang sangat mengerikan, Stevie akhirnya bisa memarkirkan mobilnya *ralat mobil milik Ally yang diberikan kepadanya, di tempat yang sepatutnya –tempat parkir berada di depan Beveridge Bar. Gadis cantik itu menyebrang dengan cepat dan segera memasuki Bar yang tampaknya tidak pernah mati itu. Di siang dan malamnya, Beveridge Bar selalu saja dipenuhi dengan para penikmat lagu, para penikmat minuman dan bahkan oleh para penikmat makanan ringan yang disediakan disana untuk melengkapi keinginan para pengunjung.Setelah menyapukan mata berwarna cokelatnya keseluruh ruangan yang penuh, gadis cantik itu kemudian mengeluh karena ia tidak bisa menemukan gadis tomboy yang dicarinya. Hampir frustasi karena gadis itu tidak bisa menemukan Ally, Stevie akhirnya mendekat pada meja bar yang dipenuhi dengan banyaknya lelaki.Mengangkat tangan pertanda meminta satu minuman pada bartender baru yang bahkan tidak dikenal olehnya, Stevie kemudian berusaha untuk menyapukan lagi matanya yang indah kepada lautan manusia yang membuncah dan terlihat gila. "Mrs. Boebi?" Stevie melirik pada pemuda yang baru saja memberinya satu cherry vodka sambil lalu memberi lelaki itu pandangan tidak mengerti."Apa kita pernah bicara sebelumnya?" tanya si gadis yang membuat lelaki itu jadi terkekeh karenanya "Ya, Aku sempat bertemu denganmu beberapa kali" dan jawaban si pemuda membuat Stevie melempar tawa kecil ke udara karena ia sudah lancang untuk melupakannya.Si pemuda menyerahkan tangan sambil mengujarkan namanya "John" dan Stevie tersenyum sebagai bentuk perkenalan. "Jadi, apa Shannon ada disini?" ujar Stevie tanpa perlu memperkenalkan diri karena si pemuda pastinya sudah tahu namanya karena ia sudah memanggilnya dengan nama belakangnya.John tersenyum sebelum menjawab dengan lembut "Shannon pergi dengan Debra dan Casey ke kampung halaman Mereka. Tapi aku sempat melihat Mrs. Hills berjalan ke PIV room beberapa saat lalu" dan Stevie bergegas cepat menuju PIV room yang memang biasanya selalu digunakan si gadis tomboy itu. Sepertinya gadis itu kehilangan akal sehatnya karena tidak bertemu dengan Ally selama beberapa saat dan tidak bisa berpikir jernih karena hal itu. God dammit!Stevie menjelajah PIV room dengan mata hazelnya hanya untuk mendapati gadis tomboy yang mengenakan setelan berwarana hitam dari ujung kepala sampai ujung kakinya dan ia tahu kalau itu adalah gadis yang dicarinya. "Allison?" tanya Stevie tak tahu harus berkata apa lagi saat melihat wajah milik mantan kekasihnya yang terlihat lelah. Rambut Ally terikat keatas dan memperlihatkan leher jenjangnya meskipun kupluk dari sweaternya sedikit menutupi, matanya terlihat memiliki kantung hitam, pipinya terlihat lebih kurus dari saat terakhir kali ia bertemu dengan gadis tomboy itu dan bibirnya yang biasanya merah basah merona kini berubah menjadi bibir kering dan tampak putih.Menghampiri gadis tomboy itu meskipun merasa tidak sanggup, Stevie akhirnya menjatuhkan pelukan pada Ally dan merasakan hangatnya suhu tubuh familiar yang selalu saja menyambutnya –setidaknya sampai beberapa hari kebelakang. Harum tubuh gadis tomboy itu menguar dan terganti oleh bau alkohol serta asap rokok, rasa cinta yang biasanya diberikan Ally padanya menguar dan berganti dengan perasaan hampa dan kecewa, dan satu lagi perasaan menyambut dari gadis tomboy itu berganti dengan perasaan tidak ingin dari Ally sehingga membuat Stevie melepaskan pelukan mereka meskipun tidak ingin."What happened to you, Allison?" bisik Stevie sambil tidak lupa mengangkat pandangan milik gadis tomboy itu yang sedaritadi menatap lantai dibawahnya.Menatap Stevie dengan perasaan yang ada didalam dadanya, Ally kemudian menjatuhkan kepalanya pada bahu milik Stevie dan menyesap harum milik gadis cantik itu sebanyak-banyaknya "Aku salah, Stevie. Aku salah" aku gadis tomboy itu dengan nada putus asa.Mengusap punggung Ally dengan perlahan, Stevie kemudian ikut berbisik dengan perlahan "It's oke, Ally. We can talk about it later. Now, I need your help to get out of here, ok?" dan Ally mengangguk untuk jawaban sebelum akhirnya berdiri dan mengikuti langkah Stevie menuju parkiran untuk membicarakan hal yang terjadi pada Mereka berdua beberapa hari lalu.*-----*
Riska Pramita Tobing.
Bạn đang đọc truyện trên: ZingTruyen.Store